Rabu, 02 Juni 2010

SOLUSI PEMECAHAN MASALAH

  1. IDENTIFIKASI MASALAH SISWI SMA KOTA TEGAL

- Ada seorang siswi SMA kota Tegal

- Dia disuruh memakai jilbab oleh orang tuanya.

- Dia tidak mau memakai jilbab karena tidak nyaman.

- Orang tuanya marah.

- Siswi itu berubah menjadi anak pemurung dan suka menyendiri.

- Siswi itu bimbang antara memakai jilbab dan tidak memakai jilbab.

- Dia khawatir kemarahan orang tuanya mengganggu prestasi belajarnya.

  1. DESKRIPSI PERMASALAHAN SISWI SMA KOTA TEGAL

Dari identifikasi permasalahan yang dialami seorang siswi SMA kota Tegal, maka dapat kita ketahui bahwa dia mempunyai masalah atau konflik yaitu kebimbangan. Kebimbangan yang siswi tersebut alami merupakan suatu permasalahan yang timbul dalam dirinya yang disebabkan oleh keinginan dari kedua orang tuanya yang menghendaki dia memakai jilbab, sementara dia tidak suka memakai jilbab dikarenakan merasa tidak nyaman. Akan tetapi dia juga merasa kahawatir jika kemarahan orang tuanya yang disebabkan karena dirinya tidak mau memakai jilbab tidak juga reda, akan mengganggu konsentrasinya dalam belajar, dan tentunya bisa berpengaruh kepada penurunan prestasinya. Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain :

a. Diagnosa

Dalam permasalahan ini, ada beberapa hal yang menjadi pengaruh timbulnya permasalahan siswi tersebut. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah atau konflik, antara lain :

1) Faktor dari luar / Ekstern

Faktor orang tua dalam hal ini memegang pengaruh yang sangat besar atas permasalahan yang dialami oleh siswi SMA kota Tegal itu, Mereka sangat menginginkan anak perempuannya tersebut bersedia dan mau memakai jilbab sesuai dengan ketentuan ajaran agama islam yang diyakininya. Mungkin dalam pikiran mereka, sebagai orang tua mereka ingin menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Mereka berharap anaknya bisa mentaati ajaran agama islam, untuk itu mereka mengarahkan dan berusaha membimbing anaknya untuk bisa menjalankan semua perintah Allah, mulai dari hal yang mungkin dianggap remeh, yaitu dengan berbusana muslim / memakai jilbab. Mereka berharap dengan diawali memakai jilbab atau berbusana islami bisa membawa dampak positif bagi anaknya, bisa menuntun anaknya ke jalan yang benar, bisa membimbing anaknya menjadi sholehah, bisa membuat anaknya selalu berperilaku yang santun yang mencerminkan seorang muslimah yang baik, dan masih banyak lagi harapan-harapan yang mungkin mereka harapkan dari anak perempuannya itu dengan memakai jilbab.

2) Faktor dari dalam / intern (Siswi bersangkutan)

Sebagai seorang siswi SMA, tentunya tidak jauh beda dengan siswi-siswi yang lain. Sebagai remaja yang sedang beranjak menuju dewasa banyak sekali pergolakan dan perubahan yang terjadi dalam diri seorang anak/remaja. Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Hal ini kadang jarang sekali dicermati oleh para orang tua kebanyakan, padahal di masa remaja seorang anak sangat membutuhkan perhatian, bimbingan dan arahan yang bisa membawa mereka ke dunia yang mereka cari, yang bisa membawa mereka ke jalan menuju masa depan yang mereka impikan. Disinilah peran orang tua dibutuhkan oleh seorang anak. Biasanya remaja ingin sekali dimengerti, mungkin ini pula yang diharapkan oleh siswi SMA kota Tegal. Dia ingin sekali orang tuanya bisa mengerti bahwa dia merasa tidak nyaman apabila memakai jilbab. Mungkin ada beberapa hal yang menjadi penyebab ketidaknyamanan dia memakai jilbab, misal saja dia takut tidak bisa bebas bergaul karena memakai jilbab, bisa juga dia malu karena biasanya gaya pakaian remaja itu harus modis, dsb. Sementara orang tuanya terus memaksa dia memakai jilbab setiap hari, itu artinya dia setiap hari terus dipaksa dan harus menerima kemarahan orang tuanya karena dia belum mau menuruti memakai jilbab. Kemarahan orang tua yang dia rasakan sepertinya membawa pengaruh dalam dirinya. Didalam batinnya timbul suatu kebimbangan, dia merasa tertekan, psikologisnya terganggu, karena setiap saat dia kena marah orang tuanya, sedangkan dia merasa belum siap memakai jilbab, hal ini akhirnya berdampak pada sikapnya di sekolah. Pertentangan dalam batinnya antara tidak mau memakai jilbab dan takut kemarahan orang tua menggangggu kondisinya dalam belajar, baik secara fisik maupun psikisnya.

b. Prognosa

Dan jika permasalahan yang dialami siswi tersebut terus berlarut maka tidak menutup kemungkinan jika suatu saat dia akan mengalami tekanan batin yang mungkin bisa dikatakan stress berat. Kebimbangan yang dia rasakan berpengaruh besar terhadap kegiatan keseharian dia baik di sekolah maupun di rumah. Dalam kondisi bingung tentunya membuat dia tidak bisa fokus atau konsentrasi dalam kegiatan proses belajar di sekolah, padahal dalam proses belajar sudah pasti membutuhkan konsentrasi yang baik agar semua pelajaran yang diajarkan oleh guru bisa diterima oleh otak kita. Jika konsentrasi dalam belajar terganggu tentu bisa berdampak pada pencapaian prestasi, konsentrasi yang terganggu membuat kita menjadi lambat menerima pelajaran, atau bahkan mungkin kita tidak bisa menerima pelajaran dengan optimal. Begitupun dengan siswi SMA kota Tegal ini tentu lambat laun dia bisa ketinggalan pelajaran dibanding dengan teman-teman yang lain. Hal ini akan membuat dia mengalami hambatan dalam belajar, dan jika hal ini terus menerus berlanjut maka dia akan mengalami kerepotan dalam ulangan/evaluasi belajarnya. Dan bisa dipastikan prestasinya akan menurun. Disamping hambatan dalam pelajaran, masalah yang dialami siswi tersebut juga menimbulkan hambatan dalam pergaulan dia dengan teman-teman sebayanya baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Kebimbangan yang dia rasakan tentu membuat gejolak tersendiri di dalam batinnya. Kondisi psikologis dia menjadi terganggu. Dalam dirinya muncul perasaan malas untuk bergaul dengan temannya, sehingga dia memilih untuk menyendiri dibanding bergaul, bermain dan bahkan bersenda gurau layaknya seorang anak. Padahal remaja seusia dia sedang senang-senangnya bermain dan bergaul mencari teman sebanyak-banyaknya, akan tetapi perilakunya berubah menjadi anak yang banyak murung karena yang terlintas dipikirannya hanya permasalahan yang dia alami. Jika pergaulannya mengalami hambatan seperti itu tentu mengakibatkan sedikit demi sedikit teman-temannya akan menjauh, dan dia juga bisa kurang mendapatkan informasi dalam pergaulannya. Dan jika kondisi psikisnya terus menerus terganggu maka bisa menyebabkan terganggunya kondisi tubuh atau kesehatannya. Kondisi tubuh yang tidak stabil rentan akan serangan penyakit yang bisa datang kapan saja. Apalagi jika dia menjadi malas makan, maka asupan gizi dan vitamin yang dibutuhkan tubuh menjadi berkurang, yang artinya kondisi tubuh menjadi lemas dan lemah. Kondisi tubuh yang memburuk, pergaulan yang tidak baik dan menurunnya prestasi belajar bisa mempengaruhi masa depannya jika tidak segera mendapat penyelesaian dengan baik.

c. Treatment (konseling)

Ada beberapa cara dalam mencari penyelesaian masalah siswi SMA kota Tegal tersebut, salah satunya dengan konseling agama. Dari identifikasi permasalahan, diagnosa, prognosa maka seorang guru BK atau konselor jika menangani permasalahan siswi SMA kota Tegal tersebut akan melakukan langkah sebagai berikut yaitu dengan pendekatan konseling agama :

    1. Guru pembimbing atau konselor berupaya mendekati konseli (siswi SMA kota Tegal) untuk mencapai rapport yaitu hubungan akrab antara konselor dengan konseli, sebagai seorang konselor dituntut mampu bersikap attending, ramah, sopan, tersenyum, memperhatikan mata klien, dan mengucapkan kata-kata yang manis karena ungkapan seperti itu besar pengaruhnya terhadap kepercayaan konseli kepada konselor. Dengan demikian siswi tersebut mau percaya terhadap guru pembimbing.
    2. Selain bersikap ramah, terbuka dan bersahabat guru pembimbing juga harus mampu merefleksi perasaan siswi tersebut, dan menunjukkan bahwa kita mengerti dan memahami apa yang dirasakannya, menunjukkan empati agar dia merasa punya sahabat untuk mengeluarkan perasaannya yang mungkin bingung, bimbang, sedih dan tertekan.
    3. Kemudian konselor perlu mengeksplorasi perasaan konseli agar dia menurunkan tekanan perasaan yang mengganggunya, sehingga dalam diri siswi tersebut muncul kepercayaan kepada guru pembimbing/konselor sehingga dia mau dengan secara sukarela dan terbuka menceritakan masalahnya dalam hal ini kebimbangan antara memakai jilbab dengan terpaksa sehingga merasakan ketidak nyaman atau tidak memakai jilbab sesuai keinginannya tetapi disisi lain harus siap menerima kemarahan orang tuanya.
    4. Kesempatan ini kemudian digunakan untuk menggali semua perasaan siswi tersebut lebih mendalam, sehingga konselor bisa mengetahui semua perasaan konseli sampai dianggap cukup memadai sebagai acuan dalam mencari pemecahan atas masalahnya itu.
    5. Setelah eksplorasi perasaan dianggap cukup, dilanjutkan dengan eksplorasi pengalaman, yaitu menggali semua perasaan siswi tentang apa tindakan yang akan dilakukan selanjutnya atau ide apa yang ada dalam pikirannya, yang ada dalam benaknya. Disamping itu guru pembimbing/konselor harus mampu mengarahkan konseli (siswi SMA) untuk berpikir sehat, sehingga pesan utama atau definisi masalah bisa dicapai.
    6. Kemudian setelah mengetahui definisi dari permasalahan siswi yaitu mengenai kebimbangannya untuk memakai jilbab, guru pembimbing berupaya memberi bantuan agar siswi mampu memecahkan masalahnya, mampu mengarahkan dirinya dalam menentukan pilihan yang tepat atas kebimbangan yang terjadi, mampu mengembangkan potensinya dalam rangka meningkatkan prestasi belajar secara optimal, mampu mandiri dalam segala aspek kehidupannya baik di sekolah maupun di luar sekolah termasuk dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya.
    7. Guru pembimbing berupaya menyadarkan siswi tentang sikap penolakannya untuk tidak memakai jilbab karena merasa tidak nyaman, dan siswi tersebut diarahkan agar mau memahami dan mengerti akan maksud, tujuan dari permintaan orang tuanya untuk memakai jilbab.
    8. Arahkan pemahaman siswi untuk mau berpikir dan menggali semua kemampuannya mengenai nilai-nilai agama/religius, mengenai ajaran agama islam, tentang kewajiban umat islam dan bila perlu tentang sunnah dalam agama islam.
    9. Kemudian guru pembimbing/konselor berupaya agar siswi tersebut dapat berpikir rasional, dan mandiri untuk mengambil tindakan atau rencana. Guru pembimbing mengajak siswi agar mau dan mampu menjalankan ajaran agama, menjalankan kewajiban umat islam khususnya sebagai perempuan tanpa merasa takut, malu dan mengesampingkan perasaan tidak nyamannya itu. Tanamkan pemahaman kepada dia bahwa suatu kebaikan akan membuahkan suatu kebahagiaan jika dilakukan dengan suatu keikhlasan. Dan tidak ada di dunia ini orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam suatu kenistaan melainkan menunjukkan anaknya kepada suatu kebaikan dan kebahagiaan. Selain itu usahakan agar dia (siswi) kreatif, mandiri dan mampu berpikir realistik sehingga tujuan konseling bisa tercapai yaitu memandirikan siswi dalam menentukan pilihan yang tepat dan baik sesuai ajaran agama tanpa terpaksa dan sesuai dengan harapan semua, baik orang tua juga diri siswi sendiri dalam menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi.

12 komentar:

  1. akeh mn bu,..bu p khmid njngn ws kmpl n y

    BalasHapus
  2. eh slh komen bu,.eeeeeeeeeee,cup komen dwek

    BalasHapus
  3. gampang:
    siswa anda bawa aja ke kiayi, perlu dirukyah.
    diberi petunjuk surga ngeyel

    BalasHapus
  4. hahaa..... mumet bu,. bacane/
    kakehen asli

    BalasHapus
  5. Ternyata konseling rumit.....berbelit-belit....
    Kalau bisa tampilkan juga bagaimana caranya menyelesaikan masalah anak yang sering keluar malam khususnya perempuan.

    BalasHapus
  6. jadi gambaran konseling agama seperti itu ya....aku tahu sekarang, thanks artikelnya ya.

    BalasHapus
  7. Wah....jadi kepengen dikonseling nih ma ibu..

    BalasHapus
  8. Aku juga buuuuuu....konseling kayaknya enak!kbtln aku lg pusing....

    BalasHapus
  9. wah,. q mumet neh bu,. baca ituuu...

    BalasHapus
  10. Jangan pusing hey para pembaca budiman.....ada sesuatu di dalam artikel ini lho!

    BalasHapus